IHSG Mulai Jinak Usai ‘Badai’ Trading Halt, Airlangga Hartarto Ungkap Strategi Redam Saham Gorengan
JAKARTA – Kabar positif menyelimuti pasar modal Indonesia setelah sempat diguncang kepanikan hebat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyambut baik mulai stabilnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil memperkecil koreksi pada penutupan perdagangan Kamis (29/1/2026).
Meski sempat mengalami trading halt (penghentian perdagangan sementara) sebanyak dua kali dalam dua hari terakhir, IHSG akhirnya parkir di level 8.232 dengan pelemahan yang melandai sebesar 1,06%.
“Alhamdulillah Wa syukurillah,” ucap Airlangga penuh syukur saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat.
Respons Cepat Pemerintah & OJK: Ada Apa dengan MSCI?
Guncangan pasar pekan ini disinyalir dipicu oleh peringatan dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menanggapi situasi darurat tersebut, Airlangga bergerak cepat melakukan pertemuan tingkat tinggi bersama Ketua DK OJK Mahendra Siregar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Gubernur Bank Indonesia.
Hasilnya, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) segera mengeksekusi langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar. Fokus utamanya adalah pembenahan data free float (saham publik) yang selama ini menjadi celah bagi volatilitas tinggi.
Target Baru: Free Float 15% dan Perang Lawan Saham Gorengan
Salah satu poin krusial dalam kebijakan baru ini adalah penyesuaian perhitungan free float. Nantinya, kategori investor korporasi dan kategori “others” akan dikecualikan. Selain itu, bursa akan mewajibkan batas minimum free float sebesar 15%.
Namun, Airlangga menekankan bahwa angka 15% bukan satu-satunya kunci. Transparansi mengenai Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir adalah “senjata” utama pemerintah untuk membasmi praktik manipulasi pasar.
“Dalam 15% itu harus tetap transparan UBO-nya siapa. Dengan transparansi ini, kita bisa memitigasi risiko saham gorengan yang selama ini meresahkan investor ritel,” tegas Airlangga.
Topik Menarik & Analisis: Mengapa Ini Penting Bagi Anda?
Untuk memahami lebih dalam mengapa kebijakan ini sangat vital bagi portofolio investasi Anda, berikut adalah tiga poin analisis tambahan:
1. Apa Itu UBO dan Mengapa Investor Ritel Harus Peduli?
Ultimate Beneficial Owner (UBO) adalah orang yang sebenarnya menikmati keuntungan dari sebuah saham, meskipun namanya mungkin tersembunyi di balik perusahaan cangkang. Dengan transparansi UBO, bandar saham tidak bisa lagi bersembunyi. Ini akan menciptakan pasar yang lebih sehat dan adil bagi investor kecil.
2. Dampak Rebalancing Indeks MSCI terhadap Psikologi Pasar
Peringatan dari MSCI seringkali memicu capital outflow (aliran modal keluar) secara masif karena manajer investasi global menyesuaikan portofolionya. Langkah pemerintah memperbaiki data free float adalah upaya agar saham-saham Indonesia tetap memiliki bobot yang kredibel di mata investor internasional.
3. Peluang di Tengah Koreksi: Serok Bawah atau Wait and See?
Level 8.232 menunjukkan bahwa IHSG masih memiliki fundamental yang kuat meski diguncang isu teknis. Bagi investor jangka panjang, koreksi yang termitigasi ini bisa menjadi peluang untuk mengoleksi saham blue chip dengan harga yang lebih rasional sebelum aturan free float baru resmi berlaku.
